TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Skadron Udara I Elang Khatulistiwa Lanud Supadio Peringati Hut Ke-68

IMG-20180430-WA0001

TNI AU.IMG-20180430-WA0002 Udara (Skadud) I Elang Khatulistiwa genap berusia 68 Tahun. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 diselenggarakan dengan sederhana di home base Skadud I, Pangkalan TNI AU (Lanud) Supadio, Pontianak, Minggu (29/4).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Komandan Lanud (Danlanud) Supadio, Marsekal Pertama (Marsma) Minggit Tribowo. Ia didampingi Komandan Wing (Danwing) Udara 7, Kolonel Pnb Setiawan. Ada pula Kepala Dinas Personel (Kadispers) Kolonel Pnb Sidik Setiyono, dan Komandan Skadud (Danskadud) 1, Letkol Pnb Supriyanto.

Peringatan HUT ke-68 ini ditandai dengan pemotongan tumpeng, yang dilakukan oleh Danlanud Supadio, yang kemudian diserahkan kepada, Prajurit Dua (Prada) Ali Murdani, yang merupakan anggota termuda di Skadud I.

“Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada Skadud I, yang telah berusia 68 Tahun. Usia ini menandakan eksistensi terbaik dari satuan utama di Lanud Supadio ini,” papar Marsma TNI Minggit.

Bermarkas di Lanud Supadio Pontianak, lanjut Danlanud, Skadud I mengawaki Pesawat Tempur Hawk 100/200, keberadaannya sangat strategis. Hal ini mengingat Kalbar dan kawasan seputar Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), yang berhadapan langsung dengan laut Natuna, Laut China Selatan.

“Juga berbatasan langsung dengan Malaysia, baik darat maupun laut. Oleh karena itu, Skadud 1 Elang Khatulistiwa, harus terus meningkatkan profesionalitas,” paparnya. 

Perwira tinggi TNI AU bintang satu, alumni Akademi Angkatan Udara (AAU) 1991 ini menjelaskan, keberadaan satuan ini tidak hanya mencover wilayah darat dan laut tetapi juga untuk mem-backup pertahanan udara. Keberadaan Skadud I, menjadikan wilayah ini aman, sehingga masyarakat Kalimantan bisa tidur nyenyak.

 “Skadud 1 selalu menyiapkan suatu flight pesawat yang stanby 24 jam untuk mengawasi wilayah udara, khususnya di Kalimantan. Keberadaannya jelas memberi rasa aman,” ungkap Marsma TNI Minggit.

Danskadud I, Letkol Pnb Supriyanto, yang baru resmi menjabat pada Rabu (25/4), mengantikan Letkol Pnb Agung “Cayman” Indrajaya, menjelaskan tradisi sederhana dalam peringatan HUT Skadud I, menunjukkan bahwa seluruh personel siap sedia setiap saat. “Beaver” julukan sang penerbang alumni AAU 2000 ini berharap, agar Skadud 1 terus berkembang.     

“Menandai HUT ke-68, kami siap untuk terus meningkatkan profesionalitas. Menjaga, agar Skadron ini bisa terus besar, karena menghargai sejarahnya,” tutur Latkol Pnb Supriyanto. 

Usia ke-68, papar Danskadron I, bermakna tugas dan kewajiban yang diemban semakin berat, sehingga perlu kerjasama dan dukungan dari seluruh personel. Untuk itu, ia berharap agar para personel semakin giat dalam berkarya.

“Banyak sekali tugas dan operasi yang diemban Skadoron 1. Tentunya hal ini menuntut profesionalisme personel, khususnya penerbang. Sehingga tugas dan tanggung jawab yang dibebankan bisa lancar dan zero insiden,” ujarnya.

Secara historis, Skadud 1 dibentuk pada 29 April 1950, di Lanud Cililitan.  Dengan alutsista B-25 Mitchell dan B-26 Invader, dan ditambah dengan pesawat Tupolev (TU-2) dari Uni Soviet.

Pada fase 2, sekitar 1958, kedudukan dipindah ke Lanud Abdurrahman Saleh (ABD), di Malang. Saat itu, Skadud 1 diperkuat dengan pesawat OV-10F Bronco sampai tahun 1998. 

“Pada 1999, home base berpindah ke Lanud Supadio, Pontianak. Dengan diperkuat pesawat Hawk 100/200, dan mendapat julukan “Elang Khatulistiwa”,” kata Letkol Pnb Supriyanto.

“Skadron 1 pernah dibekukan pada 1977, kemudian diaktifkan kembali pada 1990 di ABD,” pungkasnya.

Leave a Reply

Verifikasi CAPTCHA *

Skadron Udara I Elang Khatulistiwa Lanud Supadio Peringati Hut Ke-68