TNI AU - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara

Survival Dasar 2019 Lanud Iswahjudi: Survivor Manfaatkan lam untuk bertahan hidup

By 22 Feb 2019 Berita
IMG-20190221-WA0123

TNI AU. Jumat (21/2). Kemampuan untuk bertahan hidup para penerbang Lanud Iswahjudi, diuji di lereng Gunung Wilis, berbagai rintangan dan hambatan harus dihadapi untuk menyelamatkan diri, dengan memanfaatkan alam untuk berlindung dan bertahan hidup guna menuju daerah kawan. “Demikian yang harus dihadapi ke-37 pilot tempur dan ground crew Lanud Iswahjudi saat melaksanakan latihan Survival Dasar tahun 2019,” ungkap Komandan Latihan Survival Dasar tahun 2019, Mayor Pnb I Kadek Suta Arimbawa, saat melepas peserta survival di lereng Gunung Wilis.

Sesuai skenario, latihan akan dibagi menjadi dua skenario yaitu survival di hutan (jungle survival) dan survival di laut (sea survival) dimana setiap jenis survival memiliki skenario yang berbeda-beda. “Pembagian skenario latihan ini bertujuan untuk memberikan dua gambaran yang berbeda kepada pelaku latihan saat harus menghadapi jenis survival yang berbeda,” ujar Danlat.

Berdasarkan skenario Survival di hutan (jungle survival). Foxtrot Flight terdiri dari dua pesawat dengan empat crew melaksanakan misi bantuan tembakan udara di daerah pegunungan yang dikuasai kelompok separatis. Saat melaksanakan operasi penerbangan, dikarenakan data intelijen yang kurang tepat, maka kedua pesawat tertembak di bagian Mesin (Engine) sehingga mengakibatkan pesawat kehilangan kendali. Hal ini memaksa penerbang melakukan eject untuk menyelamatkan diri. Keempat penerbang dapat mendarat di lokasi yang tidak berjauhan dengan aman, tetapi mereka mendarat di lokasi yang dekat dengan wilayah kekuasaan gerakan separatis sehingga harus bertahan hidup sampai datang bantuan pertolongan. Para crew akan menempuh rute perjalanan darat yang menuntut kemampuan mereka untuk mengobati rekan yang terluka, bekerja sama sebagai tim untuk menyelesaikan persoalan, menembak dalam rangka membela diri serta memanfaatkan peta dan kompas serta isi hutan untuk tetap hidup dan menjauh dari wilayah musuh.

Sedangkan Survival di laut (sea survival). Kilo flight terdiri dari dua pesawat dan empat crew melaksanakan misi serangan udara langsung di pesisir pantai untuk membantu pasukan kawan yang sedang terdesak. Pada saat melaksanakan misi, wingman mengalami spatial disorientation dan menabrak pesawat Leader dan berakibat kerusakan pada flight control kedua pesawat. Penerbang memutuskan untuk eject di atas minimum ejection altitude dan mendarat di perairan. Untuk bertahan hidup di dalam air, para crew mengembangkan pelampung dan Dinghy-One-Man sambil menunggu pertolongan dari tim SAR. Setelah berhasil membuka komunikasi dengan tim SAR, mereka diperintahkan untuk menuju ke koordinat tertentu untuk memudahkan penjemputan. Namun pada perjalanan tersebut para penerbang melihat di kejauhan terdapat pesawat helikopter musuh yang mendekat. Dengan segera para penerbang membalikkan Dinghy-One-Man untuk memberikan penyamaran bahwa tidak ada kehidupan di perairan tersebut dengan harapan pesawat musuh segera pergi menjauh dari wilayah tersebut. Setelah dirasa aman para penerbang melanjutkan perjalanan dan kemudian menuju ke koordinat yang di tentukan. Para crew melihat helikopter SAR yang sedang berpatroli mencari posisi survivor. Dengan sigap para survivor kemudian menggunakan pistol signal untuk memberikan sinyal kepada helikopter SAR tersebut. Setelah awak helikopter melihat sinyal yang ditembakkan oleh survivor dan terbang menuju ke arah survivor, para survivor melempar granat asap agar posisi mereka lebih jelas terlihat dari helikopter penyelamat. Dengan tanda asap tersebut, anggota tim combat SAR berhasil menemukan lokasi para survivor, dan akhirnya berhasil di evakuasi.

Latihan survival yang dikhususkan untuk melatih dan memberikan pengalaman praktis kepada para pilot saat menghadapi berbagai kemungkinan yang dialami dalam melaksanakan operasi di daerah musuh/pertempuran tersebut juga diikuti oleh Komandan Wing 3 Lanud Iswahjudi Kolone Pnb M. Sartriyo Utomo, S.H., Kadispers Kolonel Pnb Saeful Rahkmat, Kadislog Kolonel Tek Royke Manusiwa, S.E.,M.M., Kadisops Letkol Pnb M. Anjar Legowo, serta segenap pejabat Lanud Iswahjudi.

 

Pos Terkait

Kirim Komentar/Pertanyaan

Survival Dasar 2019 Lanud Iswahjudi: Survivor Manfaatkan lam untuk bertahan hidup