Berita Kotama

Terbentuknya Lanud Hasanuddin

Dibaca: 357 Oleh 25 Jan 2010Tidak ada komentar
Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala
#TNIAU 

TERBENTUKNYA LANUD HASANUDDIN

LAPTER KADIENG BERUBAH NAMA LAPTER MANDAI

Sementara itu pergolakan perang dunia ke II telah meluas ke Asia Timur Tentara Dai Nippon Jepang telah dapat mengalahkan Kolonial Belanda yang ada di Indonesia, maka pada tahun 1942 lapangan terbang KADIENG oleh pemerintah pendudukan Jepang ditingkatkan kemampuannya menjadi konstruksi beton dengan ukuran 1.600 m x 45 m, hal tersebut dilaksanakan untuk menunjang operasi udara dari Tentara Dai Nippon dengan menempatkan beberapa pesawat tempur dan angkut dalam menghadapi serangan bala tentara Sekutu dari Lautan Fasifik, sejak saat itulah Lapangan Terbang KADIENG berubah nama menjadi Lapangan Terbang MANDAI. Setelah kekalahan Jepang dari Tentara Sekutu pada tahun 1945, maka pemerintahan Sekutu yang dimotori oleh Belanda membangun landasan pacu baru dengan konstruksi onderlaag (runway 13 – 31) berukuran 1.745 m x 45 m, sehingga landasan pacu lama (runway 08 – 26) menjadi taxi way Echo (saat ini menjadi area kekuasaan TNI AU dengan dibangunnya Hanggar Skadron Udara 5 dan Skadron Udara 11 dengan dua buah Shelter, sementara Hanggar Skadron Teknik 044 menggunakan Hanggar ex PT. Merpati Nusantara yang bergeser ke Surabaya) pembangunan landasan baru ini telah mengerahkan 4.000 orang ex tentara Romusha.

PENYERAHAN KEPADA PEMERINTAHAN RI

Sejalan dengan kemerdekaan RI dan untuk memantapkan Kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), maka pada tahun 1950 operasional Lapangan Terbang MANDAI diserahkan dari Sekutu diwakili oleh ML (Militaire Luchtvaard) Belanda kepada Pemerintah RI yang selanjutnya dikelolah bersama antara PAU MANDAI dengan Jawatan Pekerjaan Umum Seksi Lapangan Terbang, (saat itu menjabat sebagai Komandan PAU MANDAI adalah Kapten Udara Mantiri).

Selanjutnya pada tahun 1955 dialihkan kepada Jawatan Penerbangan Sipil, sekarang Direktorat Jenderal Perhubungan Udara yang kemudian memperpanjang landasan pacu menjadi 2.345 m x 45 m. Dalam perjalanan ini Jawatan Penerbangan Sipil dan AURIS, bersama-sama mengelolah operasional Lapangan Terbang MANDAI yang saat itu bernama PAU (Pangkalan Udara) MANDAI menjabat sebagai Komandan PAU Mandai adalah LU ABASUKI dan pada pengembangannya PAU MANDAI dibawah kendali Komando Regional Udara III (KORUD III) yang berkedudukan di kota Makassar berdasarkan Surat Keputusan Menteri Panglima Angkatan Udara nomor : 31 tahun 1965 selanjutnya berubah nama menjadi Komando Daerah Udara III (KODAU III) yang berada dalam tatanan Komando Pertahanan Wilayah III (KOWILHAN III) yang juga berkedudukan di kota Makassar.

Baca juga:  Danlanud Husein S. Sambut Kedatangan Kepala Staf Angkatan Udara

DARI LAPTER DAN PELABUHAN UDARA MENJADI BANDAR UDARA HASANUDDIN

Tahun 1955 perubahan nama Lapangan Terbang menjadi Pelabuhan Udara MANDAI, dan pada tahun 1965 diterbitkan Surat Keputusan Bersama Menteri Perhubungan Udara dan Menteri Panglima Angkatan Udara nomor : C 22/2/1-U (PHU) dan nomor 106 tahun 1965 (AU) tanggal 15 Maret 1965 tentang pembagian daerah yang dikuasai penerbangan sipil dan Angkatan Udara serta penentuan tanggung jawab pembangunan dan pemeliharaan instalasi/fasilitas di Pelabuhan Udara Hasanuddin, yang juga mengangkat Syahbandar Udara Pelabuhan Udara Hasanuddin sebagai Ketua Dewan Pelabuhan Udara, sementara Komandan PAU Hasanuddin dijabat oleh Mayor Udara DJAJOESADI periode 1964 – 1966, selanjutnya digantikan oleh Letkol Pnb KUSNINDAR untuk periode 1966 –1968, PAU Hasanuddin makin meningkatkan sarana dan fasilitas untuk mendukung operasi penerbangan yang dilaksanakan oleh pesawat TNI AU dalam rangka mendukung operasi Kamdagri atau melayani penerbangan reguler yang akan terbang ke Indonesia Timur ataupun sebaliknya.

Sejalan dengan perkembangan zaman dan mengantisipasi kepadatan penerbangan, maka pada tahun 1980 landasan pacu runway 13 – 31 diperpanjang lagi menjadi 2.500 m x 45 m, setelah perpanjangan landasan pacu selesai dilaksanakan, Pemerintah RI melalui Menteri Perhubungan Udara pada tahun 1981 Pelabuhan Udara Hasanuddin dinyatakan sebagai Pelabuhan Udara untuk Embarkasi/Debarkasi Haji dan selanjutnya pada tahun 1985 Pelabuhan Udara berubah nama menjadi Bandar Udara Hasanuddin, berdasarkan peraturan Pemerintah nomor : I/1987 tanggal 09 Januari 1987 kemudian pada tanggal 03 Maret 1987 Bandar Udara Hasanuddin diserah terimakan pengelolaannya dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara kepada PERUM ANGKASA PURA I, selanjutnya pada tanggal 01 Januari 1993 berubah status menjadi PT. (Perseroan) ANGKASA PURA I.

Baca juga:  Personel Lanud Sjamsudin Noor Ikuti Rangkaian Peringatan HUT RI ke-74 Tahun 2019 di Beberapa Kota Wilayah Kalimantan Selatan

Terbentuknya Lanud Hasanuddin

SEKILAS TENTANG PAHLAWAN NASIONAL RAJA GOWA SULTAN HASANUDDIN

Nusantara kita terdiri dari ribuan Pulau dengan kekayaan alam yang berlimpah, diantara pulau-pulau itu, ada sebuah pulau yang berbentuk huruf “K”. Pulau itu adalah Pulau Sulawesi yang pada abad 15- 17 dibagian paling selatan terletak suatu Kerajaan yang besar dan disegani bernama GOWA.

Menurut catatan ahli, kerajaan ini didirikan pada sekitar tahun 1300 Masehi dan dikenal serta disegani oleh Bangsa Eropa karena kebesaran dan kekuatan armadanya. Salah seorang Raja yang memerintah GOWA itu adalah I MALOMBASSI DAENG MATTAWANG, KARAENG BONTONGAPE, SULTAN HASANUDDIN, TUMENANGA RI BALLAPANGKANA (beliau meninggal di Istananya yang indah). Beliau itu dikenal sebagai SULTAN HASANUDDIN yang dijuluki Ayam Jantan dari Timur, Raja Gowa ke 16 yang memerintah Kerajaan Gowa tahun 1653 – 1669 menggantikan ayahandanya Sultan Malik Ussaid yang memerintah tahun 1639 – 1653. I Mallombassi, nama kecil Sultan Hasanuddin dilahirkan pada tanggal 12 Januari 1631, Ayahandanya I Manuntung Daeng Mattola, Karaeng Lakiung bergelar Sultan Malik Ussaid, ibundanya bernama Sabbe Tokmo Takuntu, putri bangsawan Laikang.

Hasanuddin atau I Mallombassi mempunyai seorang saudara perempuan bernama I Sani atau I Patimang Daeng Nissakking Karaeng Bontojeknek yang kemudian menjadi permaisuri Sultan Bima, Ambela Abdul Chair Siradjuddin. I Mallombassi Daeng Mattawang dinobatkan menjadi Raja Gowa ke 16 dengan gelar Sultan Hasanuddin pada bulan Nopember 1653 pada usia 22 tahun menggantikan ayahandanya. Dalam kurun waktu pemerintahan Sultan Hasanuddin seluruh kegiatan, dicurahkan untuk mengusir penjajah Belanda dari Bumi Nusantara tercinta dan itu berakhir dengan kecurangan Belanda dalam perjanjian BONGAYA.

Baca juga:  Struktur Organisasi

Setelah kekalahan yang diderita Kerajaan Gowa dan mundurnya Sultan Hasanuddin dari Benteng Somba Opu ke Benteng Kale Gowa maka usaha Belanda memecah belah persatuan Kerajaan Gowa diteruskan. Sultan Hasanuddin telah bersumpah tidak sudi bekerja sama dengan penjajah Belanda, pada tanggal 29 Juli 1669 Sultan Hasanuddin meletakkan jabatan sebagai Raja Gowa ke 16 setelah 16 tahun berperang melawan penjajah Belanda dan berusaha mempersatukan Nusantara, sebagai penggantinya ditunjuk putranya I Mappasombang Daeng Nguraga bergelar Sultan Amir Hamzah. Setelah turun Tahta Sultan Hasanuddin banyak mencurahkan waktunya sebagai pengajar agama Islam dan berusaha menanamkan rasa kebangsaan dan persatuan.

Pada hari Kamis tanggal 12 Juni 1670 bertepatan dengan tanggal 23 Muharram 1081 H, Sultan Hasanuddin wafat pada usia 39 tahun, beliau dimakamkan dipemakaman Raja-raja Gowa didalam Benteng Kale Gowa di kampung Tamalate. I Malombassi Daeng Mattawang Karaeng Bontomangape Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Ballakpangna telah tiada, tetapi semangatnya tetap berkobar didalam dada setiap insan bangsa yang menginginkan perdamaian dan kebebasan di Bumi Pancasila ini.

Nama Sultan Hasanuddin abadi dalam dada, menghormati jasanya dengan mengabadikan namanya menjadi nama jalan pada hampir setiap kota di Nusantara. Universitas Hasanuddin sebagai salah satu Universitas terkemuka di Indonesia Timur, menggunakan namanya dan memakai lambang “Ayam Jantan dari Timur”. Demikian juga dengan Lanud Hasanuddin ataupun Bandara Hasanuddin di Makassar menggunakan namanya sebagai nama Satuan dan Bandar Udara. Dengan keputusan Presiden RI nomor :087/TK/1973 tanggal 06 Nopember 1973 Sultan Hasanuddin dianugrahi gelar Pahlawan Nasional, untuk menghargai jasa-jasa kepahlawanannya.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel