Berita

TNI AU didik 14 Instruktur Penerbang

Dibaca: 37 Oleh 08 Jan 2015Tidak ada komentar
BAe Hawk 209
#TNIAU 

Sekolah Instruktur Penerbang (SIP) adalah Sekolah pengembangan Spesialisasi Penerbang untuk itu Instruktur Penerbang Militer harus yang terampil dan handal dengan didukung jiwa juang yang tinggi. Dalam pembinaan karier, Sekolah Instruktur Penerbang juga menjadi basis bagi pengembangan karier berikutnya, karena kualifikasi instruktur akan menjadi pertimbangan bagi kemajuan perkembangan Perwira Penerbang itu sendiri.

Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi para pasis untuk mengikuti pendidikan ini dengan penuh kesungguhan. Demikian Sambutan Komandan Kodikau Marsekal Muda TNI M. Nurullah , S.IP dibacakan oleh Wakil Komandan Kodikau Marsekal Pertama TNI A. Adang Supriyadi, SE. MM pada upacara Pembukaan Pendidikan Sekolah Instruktur Penerbang Angkatan ke-73 di Wisma Adisutjipto, Kamis (8/1).

SIP TNI AU Angkatan ke-73 ini akan diikuti oleh 14 perwira penerbang. Mereka adalah Alumni Akademi Angkatan udara yang sudah berdinas selama .8-12 tahun pangkat Mayor dan kapten. Mereka telah menjadi penerbang berbagai Skadron Udara (skadud) di Indonesia.

Ke empat belas penerbang muda ini berasal dari Skadud 21 dengan pesawat Tucano, Skadud 5 dengan pesawat boeing, Skadud 8 pesawat Helikopter, Skadud 6 pesawat helikopter, skadud 4 pesawatnya Cassa, skadud 32 pesawatnya Hercules, skadud 2 pesawat CN 235 dan CN 295, skadud 7 pesawat helikopter Colibri, Skadron 11 pesawat Sukhoi, skadud 31 pesawat Hercules, skadud 15 pesawat T 50 Golden Eagle, skdud 1 pesawat Hawk 109/209. Direncanakan, pendidikan SIP akan dilaksanakan selama 6 bulan mulai 8 Januari hingga Juli 2015 di Sekolah Penerbang Lanud Adisutjipto, Yogyakarta.

Baca juga:  Danlanud ABD Ikuti Apel GAB TNI/POLRI

Komandan Kodikau berpesan bahwa, belajar dan berlatih dengan menggunakan wahana pesawat terbang dan media udara yang memiliki resiko. Resiko itu, bisa diminimalis atau ditiadakan sama sekali, jika menempatkan keselamatan terbang dan kerja secara proporsional dengan mematuhi segala ketentuan yang berlaku.

Lebih dari itu, bagi seorang airman, keselamatan terbang dan kerja hendaknya membudaya dalam dirinya. Ciri khas membudayanya keselamatan terbang dan kerja, bila perilaku para perwira selalu mencerminkan keselamatan, dengan melakukan yang terbaik dan mempersiapkan yang terjelek do the best prepare the worst.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel