Pustaka

WANITA PEMELIHARA PERDAMAIAN (WOMEN PEACEKEEPERS)

Oleh 12 Agu 2014 Tidak ada komentar
WANITA PEMELIHARA PERDAMAIAN (WOMEN PEACEKEEPERS)
#TNIAU 
WANITA PEMELIHARA PERDAMAIAN (WOMEN PEACEKEEPERS)

            Banyak orang mungkin tidak mengetahui apa yang dimaksud dengan Women Peacekeepers (Wanita Penjaga Perdamaian). Apa yang sesungguhnya mereka kerjakan? Dan apakah mungkin mereka dapat berperan di dunia militer yang banyak didominasi pria?

            Kisah ini khusus menyoroti keterlibatan wanita-wanita berseragam di dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa di Lebanon Selatan. Sebab banyak pula wanita sipil yang memegang tugas penting dalam misi perdamaian PBB di seluruh dunia.

Organisasi Perserikatan Bangsa Bangsa adalah suatu wadah aspirasi masyarakat dunia untuk perdamaian. Dalam konteks ini PBB menuntut personil yang terlibat didalamnya memiliki standar kemampuan dan integritas yang tinggi.

Women Peacekeepers adalah wanita-wanita dengan berbagai peran dan tugasnya yang sangat penting, yang tergabung di dalam misi perdamaian PBB. Sebagai penjaga perdamaian, mewakili PBB berada pada suatu Negara untuk membantu mengembalikan kepercayaan orang-orang yang mengalami trauma akibat pertikaian.

            Resolusi 1325 PBB dikenal dengan pernyataan yang sangat revolusioner dari Dewan Keamanan PBB. Mengapa demikian? Sebab sejak tahun 2000 telah dimandatkan keterlibatan wanita dalam proses perdamaian termasuk dalam operasi perdamaian PBB.

            Resolusi 1325, menyatakan tentang kesetaraan wanita dalam partisipasinya dan keterlibatannya secara penuh, dalam upaya-upaya untuk memelihara dan menyebarluaskan perdamaian dan keamanan.

            “Pelan tapi pasti, budaya kualitas gender dan pemberdayaan wanita dalam wilayah damai dan aman, pada umumnya semakin kuat meningkat,“ tulis Sekjen PBB Ban Ki-moon dalam laporannya pada tahun 2009, mengenai implementasi resolusi 1325 yang sedang berlangsung.

            Pada tanggal 29 Mei, PBB memperingati peran serta wanita, yang setiap tahunnya diperingati juga sebagai The International Day of UN Peacekeepers. Sebab resolusi PBB No. 1325 di sebut juga sebagai perluasan peranan wanita dalam operasi-operasi perdamaian PBB.

            Kita mulai dengan penghargaan terhadap wanita-wanita berseragam di UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon). PBB menggelar operasi perdamaian di Lebanon berdasarkan mandat resolusi 1701 tahun 2006, ditandatangani oleh 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB pada tanggal 14 Agustus 2006 di New York.

Resolusi tersebut memuat poin, salah satunya adalah memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat sipil setempat serta membantu mengamankan proses kembalinya masyarakat yang telah mengungsi dan terpisah selama terjadinya perang.

Mandat Resolusi PBB 1701 dapat diemban pula dengan penuh tanggungjawab oleh Women Peacekeepers. Khususnya oleh wanita militer atau wanita yang berseragam di UNIFIL dengan peran tugas yang majemuk.

Jika melintasi sepanjang wilayah Selatan Libanon kita akan berjumpa dengan banyak UNIFIL’s Women Peacekeepers. Ada berbagai macam peran yang telah diemban; khususnya untuk menghilangkan stereotip tradisional tentang “pekerjaan pria”.

Mulai dari menyediakan layanan kesehatan dan berinteraksi dengan masyarakat hingga mengemudikan kendaraan bersenjata. Mengoperasikan peralatan pertahanan udara. Terlibat dalam operasi penjinakan ranjau yang tentunya beresiko tinggi. Semuanya membuktikan peranan penting yang mereka mainkan untuk membawa perdamaian dan stabilitas di Lebanon Selatan.

Nama jabatan yang mereka emban ada bermacam-macam : An Explotion Detection Dog Leader; Country Adviser to UNIFIL’s Sector West Commander; Perwira Penerangan (Public Information Officer); Perwira Perawat; Perwira Kesehatan; Polisi Militer; Staf Militer Sektor Timur; dan banyak lagi lainnya.

Saya berjumpa dengan tentara Malaysia. Seluruhnya cantik berjilbab. Setiap empat bulan sekali mengalami rotasi. Tetapi dari segi jumlah, mereka lebih besar jumlah tentara wanitanya dalam satuan tugas Malaysia Batalyon di UNIFIL, daripada Wanita TNI di Indonesia Batalyon.

Teman sekaligus rekan se-profesi: Captain Sarah dari Malaysia Batalyon menyandang tugas selaku Perwira Penerangan. Sempat bercakap-cakap dan bersenda gurau di Mabes UNIFIL saat diselenggarakannya pertandingan Badminton antar negara peserta UNIFIL.

Ternyata, Captain Sarah memiliki rambut yang panjang dan lebat saat tidak mengenakan jilbabnya di tengah-tengah sesama militer wanita. Saat jumpa itulah, barulah kami menyadari, jikalau Captain yang masih lajang ini memiliki rambut yang panjang, hitam lebat, dengan penampilannya yang sangat feminim. Wanita walaupun tentara tidak pernah akan meninggalkan sifat feminim-nya.

Menurutnya, sangatlah jarang tentara wanita Malaysia dapat mengikuti misi perdamaian PBB. Dan baginya, ini merupakan kesempatan yang sangat besar untuk belajar budaya negara Lebanon.

Ada juga terdapat tentara wanita China Batalyon (Chinbatt). Dari segi jumlah jika dibandingkan dengan mereka, tentara wanita Chinbatt sangatlah banyak. Hal ini masuk akal, sebab negara China memusatkan perhatiannya pada pelayanan kesehatan di Selatan Lebanon. Mereka dipercayakan untuk mengoperasikan The Chinese Level II Hospital.

Sehingga tidaklah mengherankan jika tentara wanitanya kebanyakan berperan sebagai dokter maupun perawat. Mereka juga menjadi kawan tanding yang tangguh. Dalam kompetisi Tenis meja dan Badminton.

Letnan Tingli Peng, Dokter Gigi dari China Batalyon, menyatakan adalah merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan dapat berpartisipasi dalam misi perdamaian PBB.

Saat pertama kali tiba, ia sangatlah tidak percaya diri tentang bagaimana berkomunikasi dengan pasien-pasiennya yang berasal dari berbagai negara. Tetapi tidaklah lama setelah itu akhirnya ia sadar. Sebenarnya tidaklah sesulit seperti yang ia kira. Walaupun juga masih ada tantangannya.

Setelah dua bulan berjalan, telah dapat mengambil bagian dalam berbagai aktivitas dengan masyarakat. Walaupun juga, merindukan anak kesayangannya yang berusia 3 tahun, yang selama ini tidak pernah terpisah jauh darinya.

Demikian pula, ada banyak sekali ciri-khas yang unik dari wanita Peacekeepers, yang tidak lepas dari pengamatan saat berada dalam pergaulan internasional. Sekali waktu saat memasuki gerbang masuk pintu Sektor Timur UNIFIL. Betapa terkejutnya, saat menyadari bahwa tentara yang berdiri menjaga pintu masuk adalah seorang wanita.

Sebab dari kejauhan, perawakannya yang tinggi dan kekar, tidak sedikitpun mencerminkan bahwa ia adalah seorang wanita yang feminim. Aslinya ia adalah suku bangsa Kaukasin, dari negara Spanyol.

Saat ia menundukkan kepala untuk melongok memeriksa ke dalam mobil, dengan senjata tetap di dada; barulah saat itu nampak giwang mutiara kecil yang dikenakkannya. Dengan rambut yang di sanggul kecil.

Ternyata, bukanlah suatu hal yang tabu bagi tentara wanita Spanyol dan negara-negara lain seperti Prancis, Belgia, Turki, Italia untuk mengenakan giwang kecil dan rambutnya yang panjang di gelung.

Saat menjalankan tugas, dia akan tetap seperti ini penampilannya. Setelah berakhirnya jam dinas, dapat mengurai rambut panjangnya. Sangat manusiawi dan bukanlah satu hal yang menghapus kodratnya sebagai wanita. Lain lubuk, lain Belalang. Lain negara, lain ciri khasnya.

Petty Officer (PO) Natasja Lippens bekerja di Departemen Teknik Persenjataan pada kapal UNIFIL’s Maritime Task Force berbendera Belgia Leopold I. Dia turut mengambil bagian dalam kehidupan yang menantang di kapal.

Natasja Lippens bangga dapat menjadi bagian dari misi perdamaian karena dapat menolong sesamanya. Di kapal, ia memperbaiki dan merawat komputer. Ia sangat senang melakukan hal itu—ia senang memperbaiki sesuatu. Hal itu memberi kepuasan tersendiri baginya.

Sebagai bagian dari satuan tugas maritim UNIFIL ia meyakinkan bahwa tidak ada penyelundupan ke dalam Lebanon. Setiap orang yang berada di atas kapal, bekerja bersama-sama, sama seperti untaian rantai, semua saling mendukung satu sama lain.

Jauh dari rumah, tentu saja, membuat ia rindu keluarga dan teman-temannya. Tetapi menurutnya, hal-hal yang sederhana, membuat ia menyadari, merupakan suatu hal yang indah dalam hidup saat berada di tengah laut—seperti mandi dibawah pancuran air, dan tidur di sofa.

Lain Natasja lain juga Gonca Fidan, seorang Dokter Turki,  berpangkat Letnan Satu. Selalu melakukan yang terbaik untuk menolong wanita dan anak-anak. Menurut dokter yang adalah satu-satunya perwira wanita di kesatuannya, merupakan suatu kebahagiaan baginya dapat menjadi bagian dari misi perdamaian PBB dan melihat hasil dari pekerjaannya dalam kehidupan masyarakat.

Wanita Penjaga Perdamaian melaksanakan peran yang sangat penting dalam mempertahankan kontak dengan masyarakat lokal. Ia berusaha melakukan apa yang terbaik. Setiap hari dia bertanya kepada dirinya sendiri, apa yang lebih lagi yang dapat dilakukannya untuk menolong masyarakat, khususnya bagi wanita dan anak-anak.

Dokter Turki ini tidak ingin masyarakat lokal kuatir tentang kehidupan. Menjadi satu-satunya perwira wanita di kesatuan, menjadikannya sangat merindukan keluarga, khususnya adiknya.

Lain lagi pengakuan Sersan Sandra Boissier, French Anti-Craft Team Leader. Bertemu banyak penduduk Libanon yang sangat bersahabat dan terbuka. Ia sangat apresiasi dapat bekerjasama dengan tentara Lebanon.

Mengungkapkan bahwa ia bekerja sebagai bagian dari tim, yang bertanggungjawab terhadap pertahanan udara dan daratan, siang dan malam, 24 jam sehari. Kerja tim mereka menghasilkan keamanan menyeluruh dan bekerja sangat dekat dengan Angkatan Bersenjata Libanon.

Saat berada dalam misi pemulihan dan saat tiba di posisi, mereka bertemu dengan beberapa orang Libanon yang telah mengundang untuk makan bersama. Dia berharap bahwa satu hari, penduduk dapat hidup tanpa takut, hal ini hanya dapat diperoleh saat keadaan damai.

Tadi dari negara Prancis sekarang dari Ghana. Flight Lieutenant Fransisca Aholo, selaku Perwira Penerangan, melihat adanya rasa ikatan dengan masyarakat Libanon dan Angkatan Bersenjata untuk tujuan perdamaian.

Ia mengakui bahwa menjadi bagian dari misi perdamaian berarti dapat berkontribusi menghasilkan perdamaian kepada saudara-saudaranya di Selatan Libanon. Dalam tugas-tugas, ia telah mempunyai kesempatan untuk berinteraksi dengan pasukan perdamaian dari berbagai negara lainnya, yang berbeda budaya dan adat-istiadat. Ini adalah pengalaman yang sangat berkesan.

Bekerja sebagai satu badan, mengerjakan satu tujuan yang sama—yakni menjaga perdamaian di Selatan Libanon. Telah menjadi pengalaman panjang menuju perdamaian dan keamanan. Dan harapannya, agar masyarakat Libanon akan terus mendukung UNIFIL dan Angkatan Bersenjata Libanon untuk menegakkan perdamaian yang mapan dinegaranya.

Ada lagi perbedaan yang paling menyolok. Di beberapa negara lainnya, Angkatan Bersenjatanya memiliki tentara wanita setingkat tamtama. Lain halnya di Indonesia, TNI tidaklah demikian.

Sumber tentara wanita di Indonesia adalah se-tingkat Bintara dan Perwira. Tidak demikian dengan Prancis, Ghana, Portugis, Belgia, Spanyol. Mereka memiliki tentara wanita yang berpangkat Kopral.

Kopral Stephanie Gerards, An Explosive Detection Dog Leader dari Belgia, dengan teman pendamping khusus—anjing pelacak yang bernama Api. Menyatakan, ini pertama kali ia turut mengambil bagian dalam misi perdamaian PBB. Ia memiliki teman khusus. Namanya adalah Api dan dia adalah anjing pelacak.

Selain itu ia bertemu dengan masyarakat Libanon yang sangat ramah dan bersahabat. Harapannya bahwa masyarakat Libanon akhirnya akan menikmati perdamaian yang selamanya, dan dapat melaksanakan pembangunan lebih lanjut.

Sedangkan Kopral Jolanda Lara dari Spanyol, bertugas mengemudikan kendaraan personil bersenjata dan sangat suka menolong anak-anak yang sakit atau mendatangi ternak-ternak domba yang terluka.

Baginya ini adalah misi perdamaiannya yang kedua kalinya. Dan merupakan suatu kebanggaan dapat menjadi bagian dari UNIFIL. Bekerja sebagai pengemudi kendaraan bersenjata dan merasa sangat beruntung sebab memiliki kesempatan bertemu penduduk lokal saat berpatroli.

Satu kali ia menolong anak yang sakit dan pada beberapa kesempatan ia dapat membantu para Gembala Domba untuk merawat Dombanya yang sakit. Bagaimanapun, ia juga sangat rindu orangtuanya. Ia menelpon mereka setiap hari, hanya untuk mendengar suaranya. Itu sudah cukup. Setiap hari, menelpon mereka itu berarti satu hari telah berkurang, sehingga pasti akan bertemu kembali.

Tentara wanita dari Nepal, Perwira Perawat Captain Bimala Kumani Moktan dan Perwira Medis Captain dr. Renu Shrestha, menikmati pertukaran budaya dengan komunitas lokal.

Mereka merasa luar-biasa dan sangat bangga menjadi bagian dari misi perdamaian PBB. Terakhir kali mereka mengatur program peresmian, sehingga mempunyai kesempatan untuk bekerjasama dengan masyarakat lokal. Menampilkan beberapa tarian budaya dan masyarakat lokal sangat menikmati.

Dalam tugas untuk mengatasi kesulitan komunikasi, mereka menggunakan bahasa isyarat atau memanggil penerjemah. Mereka berharap bahwa damai dan stabilitas akan tetap tinggal selamanya. Dan walaupun, sangat merindukan negara atau keluarga maupun teman, mereka memiliki tim yang baik, dan Libanon bagi mereka sudah seperti rumah kedua.

Demikianlah, secuil kisah pengalaman dan pengakuan dari beberapa Women Peacekeepers yang bertugas di UNIFIL. Harapan dari masyarakat dunia dan penduduk lokal sangat tinggi, prilaku serta perkataan akan dimonitor secara ketat.

Sehingga, secara sadar harus bersiap menerima setiap rintangan yang akan dihadapi baik dalam kehidupan pribadi maupun saat berbaur dengan komunitas umum dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh PBB.  

Sebagai Wanita Penjaga Perdamaian, menyadari bahwa konsekuensi melanggar ketentuan dalam pedoman ini dapat mengurangi rasa percaya diri dan kepercayaan dalam PBB. Dapat membahayakan pencapaian tugas pokok/ misi dan dapat membahayakan status dan keamanan sebagai penjaga perdamaian.

Dalam segala bidang, Wanita Penjaga Perdamaian telah membuktikan bahwa mereka dapat tampil dalam aturan yang sama, dalam standar yang sama, dan dibawah tekanan kondisi sulit yang sama, sebagai tim pendukung bagi kaum pria.

Dalam banyak kejadian, wanita malah lebih cakap mengemban tugas-tugas perdamaian, termasuk mengumpulkan informasi dari korban kejahatan seksual; bekerja di penjara-penjara wanita; menolong wanita bekas pejuang selama demobilisasi atau proses kembalinya ke kehidupan sipil dan dapat bertindak selaku mentor atau kakak pembina bagi calon kadet penegak hukum. 

Wanita Penjaga Perdamaian juga dapat bertindak selaku figur teladan, yang menjadi sumber inspirasi bagi wanita dan anak gadis di dalam lingkup masyarakat yang selalu didominasi pria, dimanapun mereka pergi dan bertugas dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa. (Penulis sekarang menjabat sebagai Kasubsi Pustak Dispenau; HP 081213801618; kantor 0218709261; email: michikoinfo05@yahoo.com atau michiko.moningkey@yahoo.co.id ; twitter: @SanraMichiko; facebook Michiko Sandra Moningkey; blog http://michiko030176.blogspot.com; *Seluruh isi materi ini merupakan milik intelektual pribadi. Meniru dan menggandakan hal-hal yang dicantumkan dalam materi ini, diluar maupun tanpa seizin Penulis, merupakan pelanggaran hak intelektual dan dapat diproses  sesuai hukum yang berlaku.  

Komentar

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel