#TNIAU 

Peran Wanita Pada Awal Kemerdekaan

Dengan dikumandangkannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan puncak perjuangan Bangsa Indonesia, maka kaum wanita merasa terpanggil untuk ikut serta berjuang membela dan mempertahankan Negara Republik Indonesia  yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.   Bersama-sama dengan kaum pria, kaum wanita berjuang, baik di garis belakang maupun di garis depan medan pertempuran.   Di seluruh Indonesia  dengan cepat  muncul berbagai  laskar-laskar/badan-badan perjuangan bersenjata yang keanggotaannya terdiri dari kaum wanita.    Adapun laskar-laskar/badan-badan perjuangan bersenjata tersebut antara lain :   Barisan Puteri di Jakarta, Laskar Wanita Indonesia (LASWI) di Bandung, Laskar Puteri Indonesia (LPI) di Surakarta, Wanita Pembantu Perjuangan (WPP) di Yogyakarta dan lain-lain.

Keinginan kaum wanita untuk ikut berjuang mempertahankan Negara Republik Indonesia ditempuh melalui berbagai macam cara baik berjuang secara perorangan yang bergabung dengan laskar/badan perjuangan kaum pria ataupun bergabung dengan laskar/badan perjuangan kaum wanita.     Yang mereka inginkan hanya berjuang demi bangsa dan negara.   Para wanita yang umurnya masih relatif muda ini (15 sampai 20 tahun), dengan  semangat yang menyala-nyala dan suka rela menggeluti bidang penugasan  dapur umum, kesehatan, kurir dan bahkan bertempur di garis depan.

Di Sulawesi, setelah Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan oleh Soekarno Hatta, beberapa organisasi wanita tumbuh dan berkembang, seperti Persatuan Wanita Majene dan Laskar Wanita Melati di Sulawesi Selatan  dan  lain-lain.  Di Sumatera juga terbentuk laskar-laskar/badan-badan perjuangan bersenjata  seperti halnya di Jawa dan Sulawesi.  Beberapa orang wanita bahkan masuk dinas Kepolisian RI dan AURI.