Pustaka

Wawancara: Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia

Dibaca: 161 Oleh 14 Jan 2013Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 
Wawancara: Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia
KORAN JAKARTA/WAHYU AP

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kondisi alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang dimiliki TNI, baik itu angkatan darat, laut, maupun udara, jauh tertinggal dibandingkan negara-negara lainnya. Namun demikian, itu bukan menjadi halangan bagi para prajurit TNI untuk menjaga kedaulatan wilayah republik ini. Itu yang juga yang menjadi tekad TNI AU.

Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal Madya IB Putu Dunia mengatakan persoalan alutsista mengikuti rencana strategis (renstra) pengadaan pesawat yang akan berlangsung selama lima tahunan. “Ini juga disesuaikan dengan anggaran dan kemampuan negara,” ujar dia saat menerima wartawan Koran Jakarta, Mochamad Ade Maulidin, untuk sebuah wawancara khusus di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (7/1).

Dalam kesempatan itu, pria asal Bali tersebut juga menuturkan tentang perlunya akuntabilitas dan transparansi di lingkungan TNI AU terkait pengelolaan anggaran. Berikut wawancara lengkapnya.

Apa yang menjadi prioritas Anda sebagai Kasau baru? Pertama, tentu melanjutkan konsep strategis yang sudah disiapkan oleh pendahulu saya. Yang kedua, saya ingin mengajak perwira saya sesuai dengan tuntutan demokratisasi dan akuntabilitas, jangan sampai dengan kondisi saat ini kita melupakan itu. Terus juga memupuk kerja sama dengan negara-negara tetangga kita di ASEAN karena setiap negara punya kelebihan masing-masing. Kelebihan itu kita bisa pakai untuk belajar, membenahi kekurangan kita.

Bagaimana kita meningkatkan ini supaya lebih bagus. Apa yang Anda lakukan supaya AU tidak terjebak kasus korupsi, terutama dalam pengadaan alutsista? Kita harus lebih terbuka tentang pengetahuan penetapan harga sendiri (owner estimate). Jadi, sebisa mungkin kita mencari data yang bisa diketahui umum.

Namun, sangat mungkin pula karena barangbarang yang dimiliki TNI (AU) spesifik, tentunya kondisi ini yang perlu disosialisasikan. Memang dasarnya dari data yang kita dapat tentunya tempat yang umum. Dalam pelaksanaan proses pengadaan itu kembali kepada Perpres No 54 (dan) Perpres 70 (tentang Pengadaan Barang dan Jasa) yang saya melibatkan rekanan yang memang sudah memunyai kemampuan dan teruji kualifikasinya.

Apa perkembangan terbaru dalam pengadan alutsista di lingkungan TNI AU? Kita program tiap lima tahunan dari tahun 2004 sampai 2024. Sekarang periode sampai 2014 yang saya kawal. Sebenarnya, semua rencana pembelian sudah dibuat. Saya hanya melanjutkan progress (kemajuan) itu supaya meyakinkan apa yang direncanakan bisa terimplementasi dengan baik sampai 2014. Banyak pesawat yang akan datang seperti F16 ada 24 (unit), T50i (empat sudah datang), Hercules (rencana 10 pesawat, 4 di antaranya hibah), CN295, Sukhoi dalam waktu dekat ada enam lagi.

Baca juga:  ANGKASA CENDEKIA EDISI OKTOBER 2014

Apakah sejauh ini realisasi pengadaan pesawat sudah sesuai jadwal? Sampai saat ini akan hadir Sukhoi awal tahun ini. Tapi, secara umum belum ada hambatan yang berarti. Tapi, apa pun itu, kita harus mengoordinasikan dengan baik. Harapannya, 2014 akhir bisa kita perlihatkan kepada masyarakat bahwa inilah hasilnya pemerintahan saat ini Angkatan Udara bisa menerbangkan pesawat sebanyakbanyaknya sehingga kita punya kebanggaan.

Tapi, dibanding negara ASEAN, alutsista kita kan masih jauh ketinggalan? Dengan negara-negara tertentu ya. Tapi poinnya saya kira bukan di situ, tapi bagaimana kita mengambil situasi ini untuk meningkatkan kemampuan kita karena pengadaan alutsista ini tidak bisa TNI AU langsung membeli dan mengadakannya begitu saja. Kita hanya mengoperasikan, menyiapkan, dan memelihara. Mengadakan alutsista, domainnya sudah lebih tinggi lagi, (yaitu) Kementerian Pertahanan. Situasi seperti itu sudah kita laporkan ke atas supaya dibahas, tentu sesuai dengan kemampuan negara menyiapkan bujet (anggaran).

Mengapa pesawat-pesawat lama itu masih dioperasikan? Kita sudah mengadakan kajian tentang pesawat itu, kapan satu pesawat tidak bisa lagi dioperasikan. Tapi, secara teknis, sebenarnya pesawat itu tidak ada pesawat tua. Hanya pesawat yang usia pakainya sekian jam. Namun demikian, yang namanya buatan manusia tetap saja kita pakai sampai tahun sekian. Baru saja secara official (resmi) pesawat tempur yang tidak kita operasionalkan lagi, yakni Fokker 27. Jadi ada jenjang waktu yang kita ganti dengan yang baru.

Apakah pengoperasian pesawat-pesawat lama ini terpaksa dilakukan sambil menunggu pesawat baru yang datang? Sebenarnya kita sudah memprogramkan tahun sekian, (pesawat) ini habis. Kita programkan yang baru, tapi tidak semulus itu. Dalam istilah teknologi, tidak ada yang tua, usia pakainya dan usia pembuatannya, jam terbangnya habis bisa diperpanjang lagi.

Bagaimana pemberdayaan industri dalam negeri? Kita sudah ada KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) yang akan memajukan industri dalam negeri. Untuk TNI AU, Kasau secara kebetulan menjadi komisaris utama PT DI (Dirgantara Indonesia). Semaksimal mungkin dibuat yang bisa dibuat kualitas dan kuantitas di dalam negeri, tapi nyatanya sampai saat ini masalah kebutuhan alutsista tempur belum ada yang bisa dibuat di dalam negeri dan baru ada kerja sama dengan Korea membangun pesawat tempur.

Apakah kerja sama dengan negara-negara lain sekaligus alih teknologinya? Kita bersama-sama (membangun alutsista), mungkin lebih jelasnya itu Kemhan (Kementerian Pertahanan) yang membuat itu. Harapannya pada waktu jadi sesuai kebutuhan TNI AU dan itu sudah kita mulai giring sekarang, karena beberapa personel Angkatan Udara sudah ikut di dalamnya dalam hal perancangan. Nah, ini terkait kesejahteraan prajurit.

Baca juga:  Indonesia Buys Six More Sukhois

Bagaimana Anda meningkatkan kesejahteraan mereka? Sebenarnya kesejahteraan ini sudah disiapkan pemerintah. Kami cuma bagian dari institusi yang bertugas bagaimana membuat kebijakan ini berjalan dengan baik, entah dari segi pendapatan ditambah remunerasi yang mungkin sekitar 40 persen. Diharapkan dengan kita bekerja bagus, kesejahteraan ini akan bisa meningkat. Kalau kinerjanya lebih jelek, mungkin akan menghilang. Di bidang lain, ada gaji ke-13, kemudian ada asuransi-asuransi TNI AU kepada anak buah, misalnya untuk kematian dan kesehatan.

Bagaimana dengan fasilitas perumahan? Khusus masalah perumahan, kalau kita melihat sebagian anggota kita mampu untuk mencicil rumah karena pemerintah sekarang memberikan kemudahan-kemudahan. Kita juga membuat tunjangan untuk mencicil rumah. Untuk rumah dinas, kita juga bekerja sama dengan Menpera (Menteri Perumahan Rakyat) mendirikan beberapa rusunawa (rumah susun sewa) untuk ditempati dan dibangun TNI.

Masalah perumahan yang sering menjadi sengketa dengan purnawirawan, di satu sisi memang ada beliau-beliau yang karena kondisi atau manajemen keluarga sampai pensiun tidak bisa memiliki, tapi banyak juga dari senior-senior kami menempati rumah (dinas). Sebenarnya, beliau-beliau ini sudah punya, tetapi dengan kondisi demokratisasi dan keterbukaan hukum sehingga mereka memunyai celah-celah untuk mengajukan rumah-rumah negara untuk menjadi miliknya. Itu yang saya lihat.

Menurut Anda, apa bentuk ancaman udara di masa datang? Kami di TNI AU lebih membahas kepada menyiapkan kemampuan dalam melaksanakan tugas pokok. Tentang ancaman atau bagaimana melaksanakannya, itu adalah kewenangan dari Mabes TNI. Walaupun demikian, kita tentu mengetahui kemungkinan apa yang menjadi ancaman bangsa kita. Sejauh ini, yang lebih perlu bagi kita adalah bagaimana meningkatkan persahabatan antara Angkatan Udara dengan negara-negara tetangga, khususnya dengan negaranegara ASEAN.

Apa bentuk kerja sama TNI AU dengan negara-negara ASEAN selama ini? Dengan negara-negara tetangga kita sudah membentuk kerja sama dari tingkat Kementerian Pertahanan. Kita melaksanakan latihan bersama dengan negara-negara sahabat seperti Singapura, kita menggelar latihan “Elang Indopura” (dan) “Camar Indopura”. Setiap tahun kita menggelar itu di tempat yang berbeda-beda di Singapura dan di Indonesia. (Kita juga mengadakan) bantuan-bantuan (seperti) sekolah bersama. Banyak sekali kita membuat confidence building measure (CBM).

Demikian pula dengan Malaysia, kita juga melaksanakan latihan “Elang Malindo”. Dengan Thailand “Elang Thainesia”, dengan Brunei (Darussalam) “Elang Brunesia”, dengan Filipina, dengan Australia. Semua itu kita olah sedemikian rupa sehingga timbul hubungan saling percaya. Di samping itu pula kita terlibat dalam operasi pengamanan-pengamanan perbatasan antara Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Baca juga:  Mesin Pembunuh Super Cepat Bakal Muncul di 2025

Ngomong-ngomong apakah Anda memang pernah bercita-cita menjadi Kasau? Saya dulu di kampung tidak punya cita-cita karena kondisi saya dulu sangat sederhana. Bisa sekolah nggak bayar, kemudian bisa kerja. Setelah saya masuk taruna, pengenalan kematraan dari darat, laut, dan polisi. Darat saya tidak kuat untuk lari, laut saya berlayar muntah, polisi masih bisa. Tapi saat saya diajak naik pesawat terbang, saya merasa di situ ketertarikan saya.

Kondisi di udara itu yang membuat saya sangat senang. Setelah di tingkat berikutnya, di akademi, kami semua diarahkan senior-senior untuk calon Kasau atau calon jenderal. Kita semua mengarah ke mereka. Sebetulnya, yang lebih penting itu bagaimana mengover langkah ini sesuai dengan kondisi saat ini.

Kita mau ke sana, jangan sampai lupa apa yang akan kita kerjakan. Kalau kita mau mengubah dunia, yang pertama kita bisa lakukan adalah mengubah diri sendiri. Mungkin semua ingin menjadi Kasau. Mungkin selama ini Tuhan melindungi saya, teman saya juga mendoakan, memberikan ruang, dan menilai saya proposional. Mungkin nasib saya tahap demi tahap, bisa saya lampaui.

Biodata
Nama Lengkap: Marsekal Madya Ida Bagus Putu Dunia
Tempat, Tanggal Lahir: Tabanan, Bali, 20 Februari 1957
Istri: Ida Ayu Kumala Dewi Manuaba
Anak
– Ida Ayu K Satyawati
– Ida Bagus Jaganatha
– Bintang Ayu Sauca Putri
Pendidikan
– Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Udara
Kursus
– Sekolah Instruktur Penerbang
– Sekolah Komando Kesatuan Angkatan Udara (Sekkau) Angkatan 49
– Australian Defence and Strategy Study Course, Australia
Karier
– Kepala Staf Angkatan Udara, 2012-sekarang
– Komandan Sekolah Staf Komando (Dansesko) TNI, 2012
– Gubernur Akademi Angkatan Udara (AAU), 2011
– Panglima Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional(Pangkosekhanudnas) IV, 2010
– Komandan Lapangan Udara (Lanud) Hasanuddin, 2008
– Asisten Atase Pertahanan RI Urusan Udara KBRI Malaysia, 2000 Tanda Jasa
– Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya
– Satyalancana Kesetiaan XXIV Tahun
– Satyalancana Seroja
– Satyalancana Dwidya Sistha Ulangan I
– Satyalancana Santi Dharma
– The United Nations Medal, United Nations Iran Iraq Military Observer Group (UNIIMOG)

Sumber: //koran-jakarta.com/

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel