Berita Kotama

Wing Operasi 004 Helikopter

Oleh 16 Jan 2010 Tidak ada komentar
M 458 NA B 25 Mitchell Indonesian Airforce 7168661149
#TNIAU 

WING OPERASI 004 HELIKOPTER

Mengingat jumlah satuan helikopter sudah cukup banyak, di antaranya, Skadron 6 Helikopter, Skadron Teknik 6, dan Skadron Helikopter Mi-6 Persiapan, dengan pertimbangan tugas-tugas yang dihadapi satuan helikopter semakin berat, maka pimpinan TNI AU memandang perlu memekarkan organisasi Skadron Helikopter. Untuk keperluan tersebut pada tanggal 25 Mei 1965, Menteri/Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Omar Dhani meresmikan berdirinya Wing Operasi 004 Helikopter sekaligus menandai berdirinya Skadron-skadron Udara yang berada di bawahnya dan sebagai Komandan Wingops 004 ditunjuk Letnan Kolonel Udara Suwoto Sukendar.
 
Dalam buku “Sedjarah Perkembangan Angkatan Udara” karya Mayor Drs. Trihadi disebutkan bahwa Komando Fungsionil secara taktis membawahi Koops, Komando Pertahanan Udara (Kohanud), Komando Pertahanan Pangkalan Angkatan Udara (Koppau), Komando Pendidikan (Kopend), Komando Logistik (Kolog), Sekolah Staf dan Komando Angkatan Udara (Seskau), serta Akademi Angkatan Udara (AAU).

Koops itu sendiri membawahi wing-wing operasi baik strategis, taktis maupun transport. Untuk Komando regional secara administrasi membawahi pangkalan-pangkalan udara di seluruh Indonesia. Komando ini dibentuk pada tanggal 10 Januari 1962, dengan kekuatan 8 Komando Regional Udara (Korud). Kedelapan Korud tersebut adalah Korud I yang memiliki markas di PAU Palembang, kemudian dipindahkan ke PAU Medan pada tahun 1963, memiliki wilayah Udara di Sumatera kecuali Pulau Biton dan Natuna. Korud II bermarkas di PAU Banjarmasin membina daerah Angkatan Udara Kalimantan, Pulau Biton dan Natuna. Korud III bermarkas di PAU Hasanuddin membina daerah Angkatan Udara Kepulauan Maluku dan Irian Barat. Korud V bermarkas di Jakarta membina daerah Angkatan Udara Jakarta, Korud VI bermarkas di PAU Husein Sastranegara membina daerah Angkatan Udara Jawa Barat, Karesidenan Pekalongan dan Banyumas.

Korud VII bermarkas di PAU Adisutjipto membina daerah Angkatan Udara Jogjakarta dan sekitarnya. Terakhir Korud VIII bermarkas di PAU Abdulrachman Saleh membina daerah Angkatan Udara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kedelapan Korud tersebut baru dapat terealisasi secara efektif pada tahun 1965. Melihat pembagian tanggung jawab ini, maka dapat disebutkan bahwa pada masa itu PAU Semplak secara organisatoris berada dalam pembinaan Korud VI yang bermarkas di PAU Husein Sastranegara.

Koops bertanggung jawab terhadap aktifitas-aktifitas yang dilaksanakan Wing-wing Operasional, baik taktis, strategis maupun transport. Wing Operasional tersebut berjumlah 4 yaitu Wing Operasi 001/Lintas Udara, Wing Operasi 002/Taktis, Wing Operasi 003/Strategis, Wing Opersi 004/Helikopter.
 
Wing Operasi 004/ Helikopter dibentuk sekaligus menandai berdirinya beberapa skadron helikopter baru yang berada di bawahnya, baik sebagai penyempurnaan dari Skadron Udara yang sudah ada maupun pembentukan skadron udara baru antara lain :

1. Skadron Udara 6 Angkut Sedang, mengoperasikan pesawat Mi-4, sebagai Komandan Skadron adalah Letnan Udara I SP. Oetomo dengan Perwira Teknik Letnan Udara II Tohari.

2. Skadron Udara 7 Angkut Khusus, mengoperasikan pesawat Mi-4, SM-1 dan semua jenis pesawat Bell Trooper, Ranger dan Iroquois, sebagai Komandan Skadron adalah Letnan Udara I A. Aulia Suratno dengan Perwira Teknik Letnan Udara I Suhardjito.

3. Skadron Udara 8 Angkut Berat, mengoperasikan pesawat Mi-6, sebagai Komandan Skadron adalah Mayor Udara Imam Soewongso dengan Perwira Teknik Letnan Udara II Sjamsudin Danas.

4. Skadron Teknik 6 sebagai wadah untuk memelihara pesawat-pesawat yang dioperasikan oleh Wingops 004/Helikopter, sebagai Komandan Skadron adalah Kepten Udara Burachman.

Penerbangan Istana Kepresidenan

Tanggung jawab sebagai penerbang istana kepresidenan pertama kali diserahkan pada Letnan Udara I R. Soemarsono dan Letnan Udara II Joem Soemarsono, yang pada akhirnya Letnan Udara Joem Soemarsono mendapat kepercayaan sepenuhnya menjadi penerbang pribadi presiden sekaligus merangkap sebagai perwira tehnik. Adapun pesawat yang digunakan pada saat itu adalah dua buah pesawat jenis Bell-47J Ranger yang tiba di Indonesia pada tahun 1960. Mengingat pentingnya penerbangan guna mendukung keperluan istana kepresidenan, di samping dua buah pesawat jenis Bell-47 J Ranger yang telah dioperasikan selama ini, maka pesawat S-58 Sikorsky dengan nomor registrasi H-351 dan satu buah pesawat jenis Mi-4 dengan nomor registrasi H-200 ditugaskan pula untuk mendukung kegiatan penerbangan istana kepresidenan.
 
Dalam pelaksanaannya Kapten Udara S. Kardjono diberi kepercayaan untuk menggantikan Mayor Udara Joem Soemersono sebagai penerbang kepresidenan, dan di samping tugasnya sebagai penerbang presiden, Kapten Udara S Kardjono juga ditugaskan sebagai ajudan presiden dan merangkap juga sebagai Komandan Unit Pesawat Helikopter Istana.

Sebagai kelanjutan dari era helikopter turboprop, maka pada tahun 1964 telah tiba dua buah pesawat jenis Bell-204B Iroquois dan satu di antaranya dipergunakan juga untuk mendukung keperluan penerbangan istana kepresidenan dengan nomor registrasi H-261.
 
Pada tahun 1967 telah terjadi perubahan ketatalaksanaan penerbangan pesawat-pesawat helikopter VIP Istana, berdasarkan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Udara No.35 tahun 1967 tanggal 2 Agustus 1967, maka sejak tahun 1967 dilaksanakan relokasi berupa penarikan kembali semua pesawat helikopter yang berada pada unit istana kepresidenan, untuk selanjutnya dimasukkan ke Skadron Udara 7, Wing Operasi 004. Pesawat-pesawat yang direlokasikan tersebut adalah H-110, H-111, H-300, H-267 dan H-261, dan akan tetap dipergunakan untuk melayani penerbangan VIP. Personel yang bertugas di unit istana kepresidenan ditempatkan di Skadron Udara 7 Wing Operasi 004 dan Skatek 024. Sementara itu untuk personel penerbangnya, berdasarkan instruksi Menteri/Panglima Angkatan Udara no. 3 tahun 1967 tanggal 2 Agustus 1967 telah ditugaskan Kolonel Udara Kardjono untuk tetap menerbangkan pesawat – pesawat helikopter VIP sampai ada ketentuan lebih lanjut.
 
Meskipun pesawat-pesawat yang berada di dalam unit istana kepresidenan telah direlokasikan ke Skadron Udara 7 Wing Operasi 004, tapi tugas penerbangan istana kepresidenan tetap dilayani oleh Wing Operasi 004 sesuai dengan kebutuhan dengan menggunakan pesawat yang ditentukan oleh pimpinan.
 
Dengan telah tibanya sista baru, SA-330 Puma, maka kegiatan penerbangan istana kepresidenan berangsur-angsur digantikan oleh pesawat jenis SA-330 Puma. Sesuai dengan keputusan Kepala Staf TNI Angkatan Udara nomor : Skep/22/XII/1983 dua pesawat SA-330 Puma yang diproduksi oleh IPTN yakni HT-3317 dan HT-3318 versi VIP ditempatkan di Skadron Udara 17 VIP, untuk pesawat VVIP Presiden dan Wakil Presiden.
 
Mengingat kondisi HT-3317 dan HT-3318 masih dalam tahap penyelesaian produksi dan dengan pertimbangan jenis pesawat SA-330 Puma tipe J (versi sipil) memiliki sistem emergency yang lebih baik dibanding dengan pesawat tipe L (versi militer), maka akan lebih dapat menjamin keamanan dan keselamatan terbang. Oleh karena itu untuk keperluan penerbangan VVIP Presiden dan Wakil Presiden digunakan pesawat SA-330 Puma tipe J. Sebagai tindak lanjut dari penggantian tersebut, tahun 1984 dua buah pesawat SA-330 Puma (H-3304 dan H-3306) dipindahkan dari Skadron Udara 8 Angkut Berat ke Skadron Udara 17 VIP, beserta beberapa personel penerbang dan teknisi, menjadi kekuatan penuh dari Skadron Udara 17 VIP.
 
Meskipun sacara administrasi kedua pesawat Puma tersebut menjadi kekuatan Skadron Udara 17 VIP tetapi dalam pelaksanaan penerbangannya, khususnya apabila untuk mendukung penerbangan VVIP/VIP Presiden maupun Wakil Presiden tidak dapat dipisahkan dengan Skadron Udara 8 Angkut Berat. Sebab dalam setiap pelaksanaannya yang ditunjuk sebagai komandan flight dalam penerbangan tersebut adalah Komandan Skadron Udara 8 dibantu beberapa personel dari Skadron Udara 17 VIP yang sebelumnya juga pernah bertugas dan menjadi anggota or
ganik Skadron Udara 8 Angkut Berat.
 
Dengan demikian selain tugas-tugas operasi penerbangan baik yang bersifat operasi militer maupun non militer, Skadron Udara 8 Angkut Berat, juga dipercaya untuk melaksanakan kegiatan operasi penerbangan dalam rangka mendukung kegiatan penerbangan VVIP Presiden dan Wakil Presiden sampai sekarang bersama-sama Skadron Udara 17 VIP Lanud Halim Perdanakusuma.
 
Pada tahun1992 tiba dua buah pesawat jenis NAS-332 Super Puma dengan nomor registrasi H-3321 dan H-3322 yang diserahkan ke Skadron 17 VIP untuk mendukung kegiatan penerbangan VVIP presiden dan wakil presiden. Dengan demikian jumlah pesawat helikopter yang dipergunakan untuk penerbangan VIP dan VVIP pada saat itu sebanyak empat buah, dua buah pesawat SA-330 Puma dengan nomor registrasi H-3304 dan H-3306, dua buah pesawat jenis NAS-332 Super Puma dengan nomor registrasi H-3321 dan H-3322.
 
Selain tugas-tugas penerbangan untuk melayani dukungan VVIP Presiden/Wakil Presiden, pesawat-pesawat ini juga melayani penerbangan apabila ada kunjungan dari kepala negara sahabat atau para tamu negara yang setingkat dengan kepala negara.
 
Setelah terjadi kecelakaan terhadap pesawat SA-330 Puma H-3304 ketika sedang melaksanakan penerbangan VVIP RI-I di Banda Aceh, maka berdasarkan Surat permohonan Kadisaeroau nomor : B/314–04/22/25/Disaeroau tanggal 7 Nopember 1997, pesawat H-3306 kembali menjadi kekuatan dari Skadron Udara 8 dan tetap sebagai pesawat angkut personel VIP/VVIP. Regenerasi pesawat helikopter khusus untuk keperluan VIP/VVIP kembali dilaksanakan setelah terjadi musibah kecelakaan pesawat H-3322 di Ciamis ketika sedang melaksanakan kegiatan check spot RI-I akibat gangguan pada sistem tail rotornya pada tanggal 24 April 1999. Dengan demikian pesawat VIP/VVIP tinggal satu yaitu pesawat H-3321 yang selanjutnya diganti nomor registrasinya menjadi H-3201. Regenerasi tersebut direalisasi pada tahun 2002 dengan mendatangkan dua pesawat NAS-332 Super Puma jenis L-2 langsung dari Perancis dengan registrasi H-3222 dan H-3204 dan dua pesawat jenis L-1 dari PT Dirgantara Indonesia H-3203 dan H-3206. Dengan demikian kekuatan pesawat helikopter VIP/VVIP yang ada sekarang sebanyak 5 buah pesawat NAS Super Puma.
 
Sebagai realisasi rencana pengembangan kekuatan pesawat helikopter TNI Angkatan Udara, Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan PT.DI menandatangani sebuah Kontrak Jual Beli (KJB) nomor :KJB/010/DN/M/1998 tertanggal 9 Februari 1998 yang berisi tentang Pengadaan 16 (enam belas) pesawat NAS-332 “Super Puma” untuk TNI AU. Adapun rincian keenambelas pesawat tersebut 1 (satu) pesawat VVIP dengan type L1, 2 (dua) pesawat VIP dengan type L1, 7 (tujuh) pesawat Tactical Transport (TT) dengan type C1 dan L1, dan 6 (enam) pesawat Combat SAR (CS) dengan type C1.
 
Dengan telah datangnya pesawat NAS-332 Super Puma di jajaran Lanud Atang Sendjaja yang dioperasikan oleh Skadron Udara 6, maka pelaksanaan penerbangan VVIP/VIP juga melibatkan para penerbang Super Puma dari Skadron Udara 6. Dengan demikian semakin jelas bahwa peranan Lanud Atang Sendjaja sangatlah besar dalam mendukung kegiatan penerbangan Istana Kepresidenan.

Seputar Pembekuan dan Pengaktifan Kembali Wing Operasi 004 Helikopter

Reorganisasi TNI Angkatan Udara mengharuskan perubahan terhadap struktur organisasinya, sehingga pada tanggal 28 Maret 1985 Wing Operasi 004 dibubarkan, semua personel dan fasilitasnya diserahkan kepada Pangkalan Udara Atang Sendjaja. Pembubaran Wing Operasi 004 berdasarkan Instruksi Kasau Nomor : Ins/03/III/1985 tanggal 12 Maret 1985, sejalan dengan reorganisasi TNI AU. Selanjutnya Skadron Udara 6, Skadron Udara 7 dan Skadron Udara 8 dijadikan sebagai satuan pelaksana operasi Pangkalan TNI Angkatan Udara Atang Sendjaja.
 
Peleburan dan penggabungan Wing Operasi 004 ke Lanud Atang Sendjaja berlaku efektif sejak tanggal 1 April 1985. Dengan sendirinya seperti Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 7, Skadron Udara 8 merupakan satu bagian dari satuan pelaksana Lanud Atang Sendjaja.
 
Perkembangan global yang terjadi dewasa ini mengharuskan TNI khususnya TNI Angkatan Udara menyesuaikan diri terhadap setiap perubahan yang terjadi, sehingga dituntut untuk mengadakan penyempurnaan terhadap struktur organisasinya. Setelah hampir dua windu organisasi wing tidak ada di jajaran TNI Angkatan Udara, maka berdasarkan instruksi Kepala Staf TNI AU Nomor : Ins/2/II/2000, tanggal 28 Pebruari 2000 tentang pembentukan Wing dalam jajaran Komando Operasi TNI AU, mengaktifkan kembali fungsi dan organisasi Wing 004 di lingkungan Lanud Atang Sendjaja dengan nama Wing 4 yang bertugas di bidang latihan sekaligus kembali membawahi Skadron Udara 6 dan 8. Adapun yang dipercaya menjadi Komandan Wing yang pertama adalah Kolonel Pnb Sujono.
 
Wing 4 merupakan satuan pelaksana di bawah Lanud Atang Sendjaja yang berkedudukan langsung di bawah Komandan Lanud. Wing 4 bertugas menyelenggarakan pembinaan teknis dalam rangka kesiapan operasi awak pesawat Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8. Disamping tugas-tugas tersebut, Wing 4 juga mempunyai fungsi sebagai :

a. Penyelenggara pembinaan teknis dalam penyiapan Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8 yang berada dalam jajarannya.

b. Melaksanakan pembinaan Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8 agar dapat mempertahankan dan mempertinggi kemampuan operasional.

c. Merencanakan dan melaksanakan latihan dalam Skadron Udara 6 dan Skadron Udara 8. Agar setiap saat mampu mendukung pelaksanaan operasi.

d. Melaksanakan operasi-operasi udara.

e. Mengumpulkan dan merekam data guna penyempurnaan taktik dan tehnik operasi dan latihan.

Para Pejabat Komandan Wing Ops 004 Helikopter
 
Didalam operasionalnya, Wing Operasi 004 telah mengalami beberapa kali pergantian pucuk pimpinannya antara lain :

1. Kolonel Udara Suwoto Sukendar, periode Mei 1965 – Januari 1966.
2. Kolonel Udara Slamet Sutopo, periode Januari 1966 – Juni 1966.
3. Kolonel Udara Suti Harsono, periode Juni 1966 – September 1967.
4. Kolonel Udara Imam Suwongso, periode September 1967 – Desember 1968.
5. Mayor Udara SP. Oetomo, periode Desember 1968 – Mei 1971.
6. Letkol Pnb Maman Suparman, periode Mei 1971 – Maret 1975.
7. Letkol Pnb Soekono Karsoatmo, periode Maret 1975 – Desember 1978.
8. Kolonel Pnb Suhardono, periode Desember 1978 – Mei 1981.
9. Kolonel Pnb Komar Somawiriya, periode Mei 1981 – April 1985.
10. Kolonel Pnb Sujono, periode Pebruari 2000 – Sekarang.

Kirim Tanggapan

Made with passion by Vicky Ezra Imanuel