TNI AU. Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsma TNI Abdul Haris, M.MaritimePol., MMOAS., menghadiri kegiatan Gladi dan Table Top Airport Emergency Exercise (AEE), Airport Contingency Exercise (ACE), dan Emergency Response Plan (ERP) Tahun 2026 yang digelar di Gedung Graha Aviasi Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan ini dihadiri pimpinan beserta jajaran manajemen PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, para pejabat TNI-Polri, instansi pemerintah, serta seluruh unsur terkait yang terlibat dalam penanganan keadaan darurat bandar udara.
Dalam sambutannya, Ketua Komite AEE dan ACE sekaligus General Manager PT Angkasa Pura Indonesia Kantor Cabang Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Achmad, menegaskan bahwa keselamatan dan keamanan penerbangan merupakan prioritas utama dalam penyelenggaraan operasional bandar udara.
Sementara itu, Danlanud Roesmin Nurjadinselaku Wakil Ketua Komite AEE dan ACE, menyampaikan bahwa pentingnya kesiapsiagaan seluruh unsur dalam menghadapi berbagai kemungkinan keadaan darurat, mulai dari kecelakaan pesawat udara, kebakaran, bencana alam, hingga gangguan keamanan yang dapat mengancam keselamatan jiwa dan mengganggu operasional penerbangan.
Danlanud juga menegaskan bahwa Lanud Roesmin Nurjadin senantiasa mendukung upaya peningkatan keselamatan dan keamanan penerbangan melalui penguatan sinergi, koordinasi, serta kesiapsiagaan bersama seluruh pemangku kepentingan di wilayah Pekanbaru dan sekitarnya.
Dalam pelaksanaannya, latihan ini menguji kesiapan personel, efektivitas komunikasi, koordinasi lintas instansi, serta kecepatan pengambilan keputusan dalam menghadapi dua skenario keadaan darurat yang berbeda.
Skenario pertama menyimulasikan kecelakaan pesawat akibat gangguan mesin dan kegagalan pendaratan. Pesawat Siak Air dengan registrasi PK-SIK dilaporkan mengalami gangguan mesin sekitar 10 menit sebelum mendarat. Informasi tersebut diteruskan kepada petugas Air Traffic Control (ATC), yang kemudian mengaktifkan prosedur keadaan darurat dan menginformasikannya kepada petugas Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF).
Kondisi semakin kritis ketika terjadi kebocoran bahan bakar dari tangki sayap kanan, disertai percikan api yang berkembang menjadi kebakaran pada mesin dan sayap pesawat. Petugas ATC kemudian mengaktifkan Crash Action/Crash Bell sebagai tanda dimulainya respons darurat untuk mengerahkan unsur terkait dalam penanganan insiden.
Skenario kedua menguji kesiapsiagaan menghadapi ancaman keamanan dan penyanderaan di area check-in. Simulasi diawali dengan kecurigaan petugas terhadap bagasi tercatat seorang penumpang perempuan saat menjalani pemeriksaan menggunakan mesin X-ray. Petugas kemudian berkoordinasi dengan Airport Security Supervisor untuk melakukan pemeriksaan lanjutan.
Situasi berkembang ketika dua rekan pria penumpang tersebut mencurigai bahwa rekannya sedang diamankan petugas. Keduanya kemudian melakukan tindakan agresif, mengacungkan senjata api, mengancam orang-orang di sekitar, hingga menyandera salah seorang pengguna jasa yang sedang mengantre di area check-in. Pelaku juga menyampaikan tuntutan agar rekannya segera dibebaskan.
Dalam skenario tersebut, unsur pengamanan dituntut untuk bertindak cepat, terukur, dan terkoordinasi guna mengendalikan situasi, melindungi pengguna jasa, serta mencegah meluasnya ancaman. Personel Yonko 462 Pasgat turut dilibatkan dalam simulasi penanganan ancaman keamanan dan penyanderaan, sebagai bagian dari pengujian kesiapan unsur terkait dalam menghadapi situasi darurat di lingkungan bandar udara.







